Donat sering dianggap sebagai camilan asli Amerika. Bentuknya yang bulat dengan lubang di tengah, ditaburi gula halus atau dilapisi cokelat manis, memang identik dengan budaya kafe ala Barat. Namun siapa sangka, perjalanan donat ternyata jauh lebih panjang dan melintasi berbagai benua sebelum akhirnya sampai ke meja makan kita di Indonesia.
Berawal dari "Kue Minyak" Eropa
Jejak donat dapat ditelusuri hingga ke Eropa Utara, tepatnya pada tradisi suku-suku Germanik yang membuat roti bundar bernama olykoeks atau oliekoeken—yang secara harfiah berarti "kue minyak". Adonan manis ini digoreng dalam minyak panas dan biasanya diisi dengan potongan apel, kismis, atau buah-buahan lainnya.
Belanda kemudian mengembangkan tradisi ini lebih jauh. Pada abad ke-17, olykoek menjadi kudapan populer di negeri kincir angin tersebut. Bentuknya memang belum bulat sempurna dengan lubang di tengah seperti donat modern, tapi konsepnya sudah sama: adonan tepung yang digoreng hingga renyah di luar dan lembut di dalam.
Menyeberang ke Amerika Bersama Para Imigran
Pada abad ke-19, gelombang imigran Belanda membawa resep olykoek ke Amerika Serikat, khususnya ke kawasan New Amsterdam yang kini kita kenal sebagai New York. Di tanah baru ini, resep tersebut mulai beradaptasi dan berkembang menjadi cikal bakal donat yang kita kenal sekarang.
Salah satu momen paling ikonik dalam sejarah donat adalah lahirnya bentuk khasnya yang berlubang di tengah. Menurut cerita yang populer, seorang kapten kapal asal Amerika bernama Hanson Gregory menciptakan lubang tersebut pada tahun 1847. Tujuannya sederhana namun cerdas—agar adonan donat bisa matang lebih merata saat digoreng, tanpa bagian tengah yang masih mentah.
Memasuki awal abad ke-20, donat semakin mudah dijangkau masyarakat luas berkat penemuan mesin pembuat donat otomatis oleh Adolph Levitt pada tahun 1920. Sejak saat itu, donat mulai diproduksi secara massal dan menjelma menjadi salah satu pastry paling populer di Amerika, lengkap dengan berbagai topping seperti glasir gula, cokelat, hingga taburan warna-warni.
Donat Tiba di Indonesia
Di Indonesia, donat diperkirakan mulai dikenal pada masa kolonial Belanda, sejalan dengan masuknya berbagai resep roti dan kue Eropa lainnya. Namun yang menarik, lidah dan kreativitas masyarakat Indonesia tidak hanya meniru begitu saja—donat justru beradaptasi dengan bahan-bahan lokal.
Salah satu hasil adaptasi paling terkenal adalah donat kentang khas Indonesia. Penambahan kentang pada adonan membuat tekstur donat menjadi lebih lembut, empuk, dan sedikit lebih mengenyangkan dibanding donat pada umumnya. Donat kentang inilah yang kemudian menjadi salah satu varian favorit di banyak toko roti tanah air.
Era Donat Modern: Inovasi Tanpa Henti
Seiring berjalannya waktu, dunia perdonatan di Indonesia terus berkembang dengan berbagai inovasi rasa dan bentuk, di antaranya:
- Donat isi (bomboloni) – donat dengan tekstur lebih padat dan diisi krim, cokelat, atau selai di bagian dalamnya.
- Donat mochi – perpaduan tekstur kenyal khas mochi Jepang dengan donat goreng.
- Cronut – kombinasi unik antara croissant dan donat yang renyah berlapis.
- Donat ubi – varian sehat dengan campuran ubi yang memberi warna alami dan rasa yang khas.
Tak hanya soal isian dan tekstur, varian topping pun semakin beragam—mulai dari cokelat premium, keju, kacang-kacangan, hingga kombinasi rasa kekinian yang terus bermunculan mengikuti tren.
Donat, Camilan untuk Segala Suasana
Dari sekadar "kue minyak" sederhana di dapur masyarakat Eropa hingga menjadi camilan yang hadir di meja sarapan, acara ulang tahun, hingga kumpul bersama teman dan keluarga, donat telah menempuh perjalanan panjang lintas zaman dan budaya. Setiap gigitan donat sebenarnya membawa sepotong cerita sejarah dari berbagai belahan dunia.
Di Dea Bakery, semangat itu kami hadirkan kembali lewat Donat Spesial dengan beragam varian rasa yang terus diperbarui—dibuat dari bahan-bahan pilihan agar setiap gigitan memberikan momen manis yang hangat, persis seperti filosofi kami: Apapun Acaranya, Dea Bakery Pilihannya.
Penasaran dengan varian Donat Spesial terbaru dari Dea Bakery? Kunjungi outlet terdekat atau pesan langsung lewat GoFood, ShopeeFood, dan GrabFood.
WhatsApp: 0811-2345-4567 | Instagram: @deabakery | Website: deabakery.co.id